Rahasia Harta Karun Jepang Diungkapkan

Posted: 27 Februari 2009 in Medang mbe maca-maca
Tag:,

Kupang, Keturunan seorang warga Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Umbu Data alias Umbu Nai Kadumbu, yang dulu pernah menjadi kepercayaan penjajah Jepang, mengungkapkan rahasia penyimpanan emas dan bahan peledak di sebuah gua di Desa Mbataka Ridu, Kecamatan Kota Waingapu.ADVERTISEMENT

Harta benda yang dibenamkan dalam sebuah gua itu, kini tengah digali setelah melalui suatu ritus adat untuk “meminta izin” kepada “penjaga gua”, namun sampai dengan hari ketiga penggalian, belum ada tanda-tanda adanya harta yang tersimpan di dalam perut bumi.

Anak Umbu Nai Kadumbu (almarhum), Rambu Kristina, yang mengungkapkan lokasi gua, setelah ditunjuk sang ayah pada tahun 1982, ketika dihubungi ANTARA dari Kupang, Rabu, mengaku, belum ada tanda-tanda ada barang berharga dan bahan peledak yang ditimbun di lokasi itu.

Kanit Gegana Brimopda Polda NTT, Ipda Euzebio Bere, yang dikontak ketika sedang berada di lokasi galian pun mengaku, pihaknya sudah tiga hari melakukan penggalian namun belum ada indikasi bahan peledak yang tersembunyi.

“Sampai saat ini kami belum melihat indikasi ada bahan peledak,” kata Ipda Euzabio, Kanit Gegana Brimopda Polda NTT yang dilibatkan dalam penggalian, karena khawatir terdapat banyak bahan peledak, meliputi granat dan bom yang ditimbun, selain emas batangan dan ratusan pedang samurai.

Kepada otoritas terkait di Sumba Timur, Rambu Kristina mengungkapkan, bahwa ayahnya, Umbu Data alias Umbu Nai Kadumbu, adalah seorang kepercayaan penjajah Jepang.

Tahun 1945, ketika Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom, Jepang melihat tanda-tanda kekalahan. Apalagi, ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaan.

Tentara Jepang yang bertugas di Pulau Sumba, kata Rambu Kristina mengutip cerita ayahnya, panik dan kemudian mengerahkan 50 orang untuk menyembunyikan emas-emas batangan, pedang samurai, beserta bahan peledak yang tersisa, berupa granat dan bom.

Sebagian barang itu dimasukkan ke dalam sebuah gua dan sebagian lain dimasukkan ke dalam sebuah truk lalu truk itu dibenamkan di depan gua bersama isinya. Di depan truk itu, ditempatkan dua granat dan dua emas berbentuk buaya yang disebut “woya ama rara” dan ular yang disebut “ulu amah”.

Setelah para pekerja menyelesaikan tugas menyembunyikan barang-barang tersebut, tentara Jepang membunuh sebagian besar mereka. Yang tersisa hanya dua orang yakni, Umbu Data alias Umbu Nai Kadumbu dan seorang rekannya yang belum diketahui namanya.

Kedua pribumi itu lalu dipaksa tentara Jepang untuk bersumpah yang dikenal dengan sumpah darah untuk tidak boleh membocorkan rahasia penyimpanan barang-barang tersebut kepada siapa pun.

Jika sumpah darah itu dilanggar, maka si pelanggar akan mendapat bencana. Bila melintasi daratan akan dipatok ular dan bila menyeberangi sungai atau lautan dimangsa buaya.

Pada tahun 1982, Umbu Nai Kadumbu melanggar sumpahnya. Ia menggali tempat penyimpanan barang-barang tersebut dan mengambil emas berbentuk buaya dan ular. Kemungkinan ia tidak berani menggali lebih dalam karena tahu bahwa di dalamnya terdapat bahan peledak berbahaya.

Beberapa saat kemudian Umbu Nai Kadumbu sakit. Sebelum meninggal, ia menunjukkan tempat persembunyian barang-barang itu kepada putrinya, Rambu Kristina, yang kemudian menceritakan ini kepada Drs. Lukas Kaborang, saat itu menjabat Bupati Sumba Timur periode 1995-2000.

Setelah melalui proses adat yang panjang, akhirnya, lokasi itu kini digali dengan melibatkan aparat dari Gegana Brimob Polda NTT.

Sumber : Antara

Komentar
  1. ajiso mengatakan:

    bagimana hasilnya sekarang,,,infokan dong

  2. rezhadf mengatakan:

    wah risetnya diambil alih pemerintah Jepang isunya terlalu bernilai untuk dimiliki perorang dan harta tersebut diselidiki milik pejabat kekaisaran jepang dulu untuk kemakmuran rakyat dimasa depan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s