Tentang Shio yang Kontroversial

Posted: 13 Februari 2009 in Medang mbe maca-maca
Tag:

Saya sudah beberapa kali berusaha keras menulis artikel tentang perlunya menjauhkan diri dari “sikap ujung terminal”. Artinya, sikap manusia itu kerap kali dipandang seperti gerakan bandulan jam. Kalau tidak mengelompok berada di ujung ekstrim yang satu, tentunya berada pada ekstrim ujung yang lain. Dalam hal memetakan kelompok manusia juga demikian. Manusia suka terlanjur atau otomatis dikategorikan masuk ke dalam dua kelompok ekstrim. Yaitu `kelompok putih’ dan `kelompok hitam’.

Yang percaya shio masuk kelompok hitam; dan yang `bertobat’ atau yang percaya bahwa “semua hari itu baik” masuk `kelompok putih’ – calon penghuni swarga loka. Alangkah senangnya apabila segala sesuatu di dunia ini dapat dipilah-pilah secara demikian sederhananya. Dalam kenyataannya realitas moral manusia tidaklah segamblang itu pemisahannya dan kebanyakan manusia berada para kawasan abu-abu, grey area, atau bahkan bersifat sangat relatif – alias tergantung sikon di mana seseorang dibesarkan atau dibina melalui eduksi bahkan dressur “belief system” yang berlaku di sana. Kebanyakan penganut gereja atau aliran
pentekostal – tanpa menyebut nama secara spesifik – cenderung melihat dunia secara hitam putih. `No nonsense’. Dan `no compromise’. Bahkan kerapkali `no
deep thinking!’ Tidak tahu banyak tetapi maunya ngomong banyak dan
ngotot pula.

Setiap manusia hidup terbiasa dalam lingkungan tertentu. Ada manusia yang senang hidup di lingkungan yang hingar bingar. Ada pula yang senang di hidup dalam keheningan. Orang Jakarta yang pulang ke desa setelah hidup puluhan tahun di ibu kota, ditanggung tidak akan mampu bertahan beberapa minggu. Bahkan ada yang tidak tahan dua tiga hari sekalipun. “Wah, papie, gile bener! Jam 8 semua toko sudah tutup. Bioskop filmya jadul semua. Sound systemnya payah, bioskopnya banyak kepinding lagi. Lalu kita disuruh ngapain dong? Ngitung jari? Komputer tidak ada. Televisi hanya stasiun lokal saja. DVD tidak punya. Walah, cepetan
pulang yuk! Besok pagi aja, ya pie!” Sebaliknya, orang desa tidak betah tinggal lama-lama di Jakarta. Mau nyeberang saja susahnya bukan main.
Longok kiri kanan padahal jalannya satu arah. Manusia berkerumun seperti semut, pusing kepala, jadinya stress. Semua serba cepat. Naik bis kaki belum masuk semua sudah cabut. Turun juga begitu. Kaki belum turun semua, bis sudah ngacir, bisa bisa orang saldo dadakan di jalanan.

Manusia bertemu manusia juga demikian. Getaran otaknya beda-beda frekuensinya. Yang “gelombang beta”-nya agak tinggi di atas 20 siklus per detik mana tahan berurusan – apalagi hidup bersama – dengan yang frekuensinya mendekam di sekitar alfa. Lima menit bertemu keduanya akan saling naik pitam dan baku teriak seperti musuh bebuyutan. Itulah konsep “ciong” dalam maknanya yang paling otentik. Tidak bisa akur kalau berdekatan. Boro-boro mau kawin atau urusan bisnis jangka panjang. Pasti buyar sebelum produktif menghasilkan apa-apa.

Budaya Tionghoa seperti budaya klasik lainnya banyak memakai simbol-simbol semiotik. Maksudnya berganda. Antara lain supaya orang awam tidak perlu tahu urusan orang pandai. Kedua memang sulit menjelaskan makna semiotik kepada orang dengan otak pas-pasan; tetapi termasuk sukar juga kepada orang yang pakai otak rasional saja. Apalagi yang pakai “otak agama” yang serba legalistik-normatif serta yang serba hitam putih. Inkulturasi bagi mereka merupakan hal tak masuk akal atau omong kosong belaka.

Mana lebih mudah mengatakan “anak gadis pamali duduk di ambang pintu” atau berpayah-payah menjelaskan bahwa hal itu “menghalangi orang lalu lalang” dan salah-salah bisa ketabrak? Mana lebih mudah mengatakan “bayi pamali ditidurkan di dapur” daripada menjelaskan bayi rawan asap (tempo dulu) dan tidak mampu menyelamatkan diri bila terjadi kebakaran? Mana lebih mudah mengatakan “rumah di pertigaan membawa sial” daripada menjelaskan posisi itu berbahaya bila ada kendaraan yang rem-nya blong,mudah masuknya udara penuh polusi (pembawa sampar) di samping soal parkir kendaraan yang susah buat semua? Orang zaman dahulu tidak sesabar manusia zaman sekarang yang mau menjelaskan – panjang lebar – segala sesuatunya secara ilmiah sehingga masuk akal. Atau, mungkin mereka
sendiri hanya meneruskan tradisi lisan dan sebetulnya juga sendiri tidak tahu apa-apa tentang latar belakang suatu kepercayaan.

Manusia modern melakukan riset dan menarik kesimpulan induktif dengan metode statistik dengan sampel yang representatif (random sampling). Hasilnya harus dapat diulang. Orang zaman dahulu kala juga melakukan observasi atau pengamatan dan mencatatnya. Tetapi mereka tidak melakukan penelitian ala ilmu statistik karena ilmunya belum ada waktu itu. Mereka juga melakukan penelitian tetapi yang sifatnya kualitatif (qualitative reasearch); bukan yang kuantitatif.

Mereka membagi waktu dalam sistem `duodesimal’ (losinan). Satu tahun 12 bulan. Satu hari dua kali dua belas jam. Siang dan malam masing-masing 12 jam. Lima windu (60 tahun) dibagi 12 periode tahunan yang diberi simbol semiotik tertentu. Ikon hewan-hewan hanyalah simbol semiotik. Babi sifatnya malas, rakus makan sembarangan, kotor, kalau dijual nilainya mahal, senang air. Dari karakter seperti itu ditarik makna semiotikanya. Kebanyakan mereka yang lahir pada periode tertentu – setelah diamati terus-menerus dalam jangka panjang – 8 dari 10 orang mempunyai tipologi karakter yang mirip. Bahwa ada `kuartil ujung’ yang berbeda karakter dengan kelompok mayoritas memang selalu dapat diterima dalam ilmu statistik. Misalnya mungkin saja ada juga orang shio babi yang sangat rajin, yang diet terus, yang sangat peduli akan soal kebersihan dsb. Ada juga perkecualian orang shio Macan dan shio Naga yang dapat hidup pasutrinya rukun tanpa cekcok sampai maut memisahkan mereka.

Namun, orang dulu yang selalu menilai 3-B – bibit-bebet-bobot – mana mau mengambil “risiko yang tidak perlu” mengawinkan pasangan yang jelas-jelas ciong satu sama lain? Orang zaman modern saja masih menganut azas saringan 3-B yang enggan mengawinkan putrinya yang lulus `cum laude’ dari Cambridge University dengan A Kong anaknya si tukang siaomay di Patekoan yang setampan F-4 sekalipun, tetapi doyan dan kebisaannya cuma main ceki dan taruhan pacuan kuda. Mana slogan “Semua manusia sama harkatnya di mata Tuhan karena semuanya diciptakan menurut gambaran Allah?” Tletong sampi (bull shit), kata saya! Mana itu slogan “cinta
kepada semua manusia” karena semuanya sama-sama anak di hadapan Bapa? Slogan boleh bagus tetapi realitas di lapangan lain lagi.

Maka dari itu menurut saya sangat perlu ditingggalkan sikap menjadi manusia terminal. Kemudian pakailah akal sehat juga, di samping norma-norma agama, tetapi jangan melupakan juga kekuatan intuisi manusia untuk memahami makna-makna semiotik segala sesuatunya – termasuk tanda-tanda zaman, peringatan alam termasuk bentuk dan bahasa tubuh dan tipologi waktu kelahiran. Yesus saja kelahirannya diramalkan oleh bintang dan konjungsi planit oleh ketiga majuzi Iran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s