Bangsa Sungai

Posted: 13 Februari 2009 in Medang mbe maca-maca
Tag:

bangsa-sungaiSINGARAJA, KOMPAS — Nenek moyangku orang pelaut. Begitu lirik pembuka sebuah lagu anak-anak. Benarkan nenek moyang kita pelaut? Benarkah kita bangsa bahari? Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan lema bahari sebagai adjektiva yang berarti dahulu kala, kuna, tua sekali; indah, elok sekali; serta sebagai nomina dengan makna mengenai laut, bahari.

Mau bukti kalau kita memang bangsa pelaut? Tak perlu mengobrak-abrik KBBI. Buka saja lema tiang dan layar. Akan terbukti bahwa nenek moyang kita berhubungan dengan perahu dan pelayaran. Tiang dijelaskan sebagai ‘tonggak panjang yang dipasang di perahu atau di kapal’. Ada kapal dua tiang, ada tiang agung, tiang topang.
Layar dijelaskan sebagai kain tebal yang dibentangkan untuk menadah angin agar perahu (kapal) dapat berjalan (laju). Pada lema layar ini kita mendapat banyak frasa dengan kata layar. Semuanya berhubungan dengan layar pada kapal atau perahu: layar agung, layar apit, layar baksi, layar batang, layar bubutan, layar bulu ayam, layar cucur, layar dastur, layar depan, layar gap, layar guli, layar gusi, layar haluan, layar jib, layar lebar, layar padan, layar pengapul, layar pinggir, layar pucuk jala, layar sabang, layar temberang, layar terbang, layar utama.

Kenyataan bahwa demikian banyak kata yang berhubungan dengan layar dapat dipahami bahwa bangsa kita memang pelaut, yang diwajibkan memberi nama berbagai jenis layar sesuai dengan fungsinya. Kita juga suka memakai metafora yang berhubungan dengan perahu, layar, dan laut. Sering kita memberi selamat kepada sepasang mempelai baru: Selamat mengarungi samudra kehidupan. Judul roman karangan Sultan Takdir Alisjahbana Layar Terkemban, layar yang ditamsilkan sebagai layar yang membawa bahtera kehidupan ke samudra luas.

Selain berkutat dengan kapal di laut, ternyata kita juga aktif bergerak di sungai. Walaupun gerakan di sungai berkurang kecuali di Martapura, Barito, Batanghari, atau sungai-sungai lain di Indonesia, kosakata yang berhubungan dengan sungai masih melekat dalam bahasa kita, menonjol terutama sekitar Lebaran. Buktinya pemakaian frasa arus mudik, yang sekarang sama sekali tak ada hubungannya dengan hulu sungai.

Mudik dijelaskan sebagai berlayar atau pergi ke udik (hulu sungai, pedalaman). Dari sini kita juga belajar struktur kota-desa. Dari ungkapan mudik ‘ke udik’ dapat dipahami asal gerakan dari muara menuju udik (hulu sungai).Tampaknya pada zaman dahulu, kota terletak di muara (dekat laut), sedangkan desa terletak di udik. Jayakarta, Semarang, Surabaya, Ujungpandang, Singaraja, semuanya terletak di pantai. Ibu kota Majapahit tidak benar-benar berada di pantai dan Tuban hanya sebagai Bandar (kota pelabuhan) saja. Namun, kemudian berkembang kota-kota yang jauh dari pantai, seperti Bandung, Yogyakarta, Surakata, atau Malang.

Lantaran udik sebetulnya bermakna ‘hulu sungai‘, maka tak perlulah berkecil hati bila disebut orang udik. Kata mudik, dengan demikian dapat mengandung makna ‘bepergian dari sebuah kota (tempat) yang besar ketempat yang kecil’. Jadi, kalau Lebaran saya mudik ke Malang dari Singaraja, bukankah itu salah kaprah? Kota Malang jauh lebih besar dari Singaraja? Mungkin ungkapan itu lebih sesuai untuk penduduk Jakarta yang pulang kampung. SUNARYONO BASUKI KS: Sastrawan, Tinggal di Singaraja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s