Jurnalis yangburuk

Posted: 10 Februari 2009 in Medang mbe maca-maca
Tag:

Tulisan ini sebenarnya bukan tulisan oleh saya sendiri saya temukan tulisan ini di suatu penyimpan data dalam salah astu warnet yang kiranya menarik untuk dibaca, entah siapa yang menulis tapi menarik memeng untuk sekedar jadi bacaan isi dimana kita akan melihat seseorang yang meungkapkan bagaimana kurang puasnya dia pada beberapa jurnalis yang dalam kesimpulannya adalah merupakan “jurnalis yang buruk”
selamat membaca…..

Ketika berangkat untuk menulis tema ini, saya sebenarnya ingin mengambil judul “Jurnalis yang andal adalah penulis fiksi yang buruk“. Namun judul ini tidak saya angkat karena saya tidak akan berbicara banyak mengenai karya jurnalistik ataupun karya fiksi. Saya hanya akan menyodorkan beberapa nama yang masuk dalam daftar jurnalis “buruk” dalam catatan saya dan alasan mengapa mereka saya sebut “buruk”. Sementara soal definisi kata “buruk”, saya serahkan sepenuhnya kepada pembaca wikimu.
Arswendo Atmowiloto
Salah satu jurnalis “buruk” di catatan saya adalah Arswendo Atmowiloto. Di mata saya, dia adalah penulis cerita fiksi yang andal. Daya imajinasinya yang menembus langit menghujam bumi, merobek angin membakar awan sekaligus menikam pelangi, terasa liar mencekam. Tetapi ketika menjadi jurnalis, orang Solo ini adalah jurnalis “buruk”. Daya imajinasinya yang mengundang decak kagum karena eloknya, sekaligus mencuatkan sumpah serapah berbumbu caci maki.
Tabloid yang dia pimpin semasa Orde Baru kena bredel. Di mata saya, tabloid itu adalah eksperimen “jurnalistik fiksi” lelaki yang bernama asli Sarwendo ini. Sebagaimana “pakem penulisan fiksi” yang menyerahkan kesimpulan akhir kepada pembaca, dia pun menyerahkan semua interpestasi atas hasil karya jurnalistiknya kepada pembaca. Ketika hasil karya jurnalistiknya dia perlakukan sebagaimana karya fiksi, langit pun membara. Arswendo masuk penjara.
“Kesalahan” Arswendo adalah menyalahi pakem karya jurnalistik yang tidak mentoleransi adanya multi-interpretasi. Arswendo membuat sebuah karya jurnalistik yang dengan sengaja dia lepas dan menyerahkan interpretasinya kepada masing-masing pembaca. Dus, ketika banyak orang menginterpretasikan “karya jurnalistik”-nya secara berbeda dengan interpretasi yang dia maksud dan inginkan, penjara pun harus dia akrabi.
Ashadi Siregar dan Mochtar Lubis
Nama daftar berikutnya adalah Ashadi Siregar. Guru saya dalam berlogika jurnalistik sekaligus pembimbing skripsi saya di suatu saat di waktu yang lalu itu juga punya imajinasi yang liar; nakal. Tak pernah saya lupakan bahwa penulis trilogi Cintaku di Kampus Biru yang humoris-sinistis sekaligus humoris-sarkastis ini sangat keras, cermat dan teliti menanamkan etika profesi kepada saya, baik secara langsung atau tidak langsung, ketika saya mengawali karir jurnalistik.
Mungkin karena merasa kasihan melihat muka saya yang memang ndesa dan memelas, tanpa saya minta dia membuat “memo sakti” yang menurutnya akan berguna untuk saya ketika mencari pekerjaan nanti. Isi memo yang dia tanda tangani di bawahnya itu (yang tak pernah saya gunakan tetapi malah saya simpan sebagai sebuah “nasihat pribadi”) berbunyi: Saya, Ashadi Siregar, menyatakan Duto Sri Cahyono, mempunyai kemampuan yang baik di bidang akademik dan jurnalistik.
Saya tidak tahu mengapa Bang Hadi, demikian kawan-kawan biasa memanggilnya, memberi saya nilai lebih untuk pekerjaan saya di bidang jurnalistik. Saya hanya mendengar cerita dari Mas Ias (Imam Anshori Saleh, Redpel KR saat itu yang kemudian hijrah ke Grup Media Indonesia) bahwa Bang Hadi mengapresiasi bagus untuk berita yang saya tulis ketika meliput pengukuhan Umar Kayam sebagai maha guru di UGM. Karena saya tidak mau ge-er, maka saya hanya menduga bahwa memo Bang Hadi itu keluar gara-gara saya lebih mementingkan pekerjaan saya (baca: cari uang untuk biaya kuliah) sebagai jurnalis di KR Jogja ketimbang mengerjakan skripsi yang dia bimbing, hehehe (pastinya, ini membuat dia tidak perlu terlalu repot saya tanyai setiap saat…).
Tetapi ya itu. Meskipun Ashadi Siregar adalah maha guru saya di dunia jurnalistik, dalam kriteria saya, dia adalah jurnalis yang “buruk”. Buruk karena koran kampus yang dia dirikan bersama Saur Hutabarat dkk kena bredel. Buzzz….
Untuk kasus sejenis, jurnalis yang sama “buruk”-nya dengan Ashadi Siregar adalah Mochtar Lubis. Indonesia Raya yang dia pimpin, dibredel rezim Soekarno. Nah, kalau Arswendo menjadi jurnalis “buruk” karena membuat karya yang mengundang multi interpretasi, maka Ashadi Siregar dan Mochtar Lubis adalah jurnalis yang “buruk” karena menyalahi pakem jurnalistik “yang ideal” di era masing-masing. Kedua media mereka bisa jadi sangat fungsional untuk kalangan tertentu tetapi disfungsional di mata penguasa. Ini adalah “buruk”.
Goenawan Muhamad dan kawan-kawan
Hampir sama dengan Ashadi Siregar dan Mochtar Lubis adalah Goenawan Muhamad. Mas Goen, saya bisa jadi salah kalau memberi dia atribut sebagai penulis fiksi. Hanya saja daya imajinasinya dalam ber-esai, lebih dari cukup untuk disebut liar elok nan mencekam. Apapun dia, di mata saya Mas Goen adalah jurnalis yang “buruk”. Majalahnya yang “enak dan perlu” kena bredel Soeharto. Disfungsioanal, begitu alasan rezim kala itu.
Untuk media massa yang dipimpin Mas Goen sampai Bambang Harymurti saat ini, untuk alasan yang berbeda juga saya sebut penuh dengan jurnalis “buruk”. Karena “buruk”-nya itulah Tempo menjadi sasaran tembak dan jambak penguasa tertentu. Terlalu membuat banyak berita “disfungsional” begitulah. (Untuk diskusi tentang fungsioanl – disfungsional sebuah karya jurnalistik, lihat kembali tulisan tentang format ideal jurnalisme warga).
Hal “buruk” lain dari Bambang Harymurti dkk adalah kesenangan mereka untuk masuk ke apa yang populer disebut sebagai jurnalistik sastrawi. Jurnalisme sastrawi, ringkasnya, adalah jurnalistik berestetika layaknya sastra. Isinya menggeber suatu topik secara lebih dalam. Penyajiannya pun kadang bergaya sebuah narasi karya sastra. Jurnalisme macam ini tidak hanya bertutur “siapa melakukan apa”, tapi ia masuk ke dalam kondisi psikologis yang bersangkutan dan mencoba menjelaskan “mengapa dia melakukan itu”. Karya sastrawi semacam itu bisa juga kita rasakan ketika kita membaca biografi, otobiografi, memoar dan sebagainya.
Nah, jurnalis-jurnalis sastrawi semacam itu adalah “buruk”. Buruk karena mereka sudah berada satu langkah di depan pembacanya. Ketika satu “keburukan” ditambah satu “keburukan” lainnya, maka itu adalah dua kali “buruk”.
Siapa daftar jurnalis buruk berikutnya yang ada di catatan saya? Oke, kali lain akan saya lanjutkan. Hanya saja seperti saya tegaskan pada awal tulisan, saya tidak mau memberi definisi operasional untuk terminologi “buruk” yang saya pakai. Sekadar penutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan pesan bahwa untuk menjadi seorang jurnalis yang baik, kita kadang berisiko dicap sebagai jurnalis “buruk”. Itu saja.
Salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s